DPR Ingatkan Pemerintah Soal Menipisnya Stok Garam Industri – berita 2018

Info terbaru Selasa Maret 2018 baca berita “DPR Ingatkan Pemerintah Soal Menipisnya Stok Garam Industri“, Media berita terbaru dan terupdate detectifmaya.com

Ilustrasi Garam (iStockphoto)8203

detectifmaya.com, Ibukota Indonesia Ketua DPR Bambang Soesatyo mewanti-wanti pemerintah agar memberi perhatian serius pada menipisnya stok garam utk bahan baku industri di dalam negeri. Ia meminta pemerintah berinovasi untuk menggenjot produksi garam di dalam negeri sehingga tak bergantung dari-pada impor.

Bambang mengatakan, menipisnya stok garam industri di dalam negeri terkait erat dengan meningkatnya permintaan dari industri makanan & minuman. Oleh karena itu, dia menuturkan, harus ada solusi permanen dari pemerintah untuk mengatasi ancaman kelangkaan garam industri.

“Pimpinan DPR meminta pemerintah segera melakukan pengembangan teknologi untuk meningkatkan produksi garam di Indonesia dan memberi kemudahan bagi para petani garam dalam memproduksi garam. Jadi tidak selalu bergantung dari pada impor garam,” ujar dia, sepeti dikutip da-ri keterangan tertulis, Hari Minggu (11/3/2018).

Ia mendorong Kementerian Pertanian agar mempermudah proses & percepatan industri garam nasional dengan membuka area yang potensial demi menggenjot produksi.

“Mengingat hingga hari ini kebutuhan industri makanan & minuman utk garam industri mencapai 535 ribu ton,” kata dia.

Selain itu, Bambang pula mengharapkan koordinasi antar-kementerian yang terkait langsung dengan persoalan garam bisa ditingkatkan. Antara lain Kementerian Perdagangan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

“Agar kementerian-kementerian terkait segera melakukan rapat bersama guna mencari solusi, baik jangka pendek maupun jangka panjang terhadap tipisnya stok garam sebagai bahan baku industri, mengingat beberapa industri makanan & minuman terancam harus berhenti beroperasi,” kata dia.

Sekilas kutipan kata-kata bijak/motivasi

Tuhan tidakkan berikan cobaan melebihi kemampuanmu. Ketika putus asa, ingatlah, jika Tuhan memberinya padamu, Dia akan membantumu melewatinya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:



25 Ribu Ton Garam Impor Da-ri Australia Tiba

1 dari 2 halamanTuntaskan Kendala Ini agar Swasembada Garam

Harga garam yang tinggi semanis bulan madu justru tak bisa dirasakan sama sekali oleh petani garam di Jeneponto. (detectifmaya.com/Ahmad Yusran)

Sebelumnya, komoditas garam produksi Indonesia memiliki beragam masalah yang harus dituntaskan jikalau ingin mencapai swasembada.

Selain produksi yang masih rendah, tingginya harga garam produksi dalam negeri membuat sulit bersaing dengan garam impor.

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan mengatakan, hari ini luas lahan tambak garam di Indonesia hanya sebesar 25.800 hektare (ha). Da-ri jumlah tersebut, petani dalam negeri hanya mampu memproduksi 2,6 juta ton garam per tahun.

“Sekarang lahan tambah garam ada 25.800 ha, yang existing, menghasilkan 2,6 juta ton per tahun,” ujar dia di kawasan Menteng, Jakarta, Thursday/kamis 22 Februari 2018.Sementara dari segi harga, lanjut dia, garam produksi dalam dibanderol lebih mahal ketimbang garam impor.

Saat ini harga garam produksi petani lokal mencapai Rp 2.200 per kg, walaupun jika harga garam impor hanya sekitar Rp 600 per kg.

Sekilas kutipan kata-kata bijak/motivasi

Ada yang layak diberikan kesempatan kedua. Ada yang layak dimaafkan tapi tidak perlu diberi kesempatan kedua.

lrm”Harganya dulu Rp 1.100 per kg, sekarang Rp 2.200. Di kita, garam tak jadi unggulan karena harga jauh lebih mahal dibanding bangsa yang garamnya jadi produk unggulan sepeti Australia dan India.

lrmGaram impor itu harganya US 45 per ton atau Rp 600 perak per kg, itu usai kita makan, seusai harga di meja, dibandingkan harga Rp 2.200,” kata dia.

Selain itu, produk garam nasional pula memiliki kualitas yang rendah. Hal ini yang membuat garam yang digunakan sebagai bahan baku industri di wajibkan diimpor dari negara lain.

“Garam produksi kita itu NaCL-nya 89, padahal industri butuhnya yang NaCL 97. Jikalau dipaksakan pakai 89 mesin produksinya rontok.

Sehingga produk lokal jikalau kita mesti dipaksa jadi NaCL 97, di wajibkan ada proses lanjutan, itu yang buat harganya jadi mahal,” ujar dia.