Nestapa Petani Di Balik Indahnya Fenomena Embun Es Dieng – berita 2018


Tanaman kentang petani Dieng Kulon, Banjarnegara menguning dan mati akibat embun es yang menempel di daun & batang. (Foto: Dok.

Pemdes Dieng Kulon/Muhamad Ridlo/detectifmaya.com)

detectifmaya.com, Banjarnegara Fenomena munculnya embun es di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah disambut gegap gempita. Warganet penasaran dengan keindahannya yang konon bak permata berkilau sesaat tertimpa cahaya matahari.

Keberadaan embun es digambarkan layaknya sensasi negeri empat musim yang tertutup salju. Wisatawan pun berdatangan ke Dataran Tinggi Dieng.

Mereka berharap bisa menyaksikan se-cara langsung.

Bak pisau bermata dua, di luar dampak positif embun es yang menaikkan tingkat kunjungan turis, rupanya embun es pula amat ditakuti dari petani Dieng, terutama petani kentang. Sebab itu, embun es dari masyarakat lokal disebut Bun upas, atau embun beracun.

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Cinta adalah caraku bercerita tentang dirimu, caraku menatap kepergian mu dan caraku tersenyum, saat menatap indah wajahmu.

Embun es disebut embun beracun atau Bun upas bukan lantaran dapat mematikan manusia atau hewan. Ia, berbahaya bagi tanaman kentang & sayuran petani Dieng.

Fenomena embun es hampir selalu disertai dengan rusaknya tanaman kentang petani. Hanya saja, skalanya yang berbeda.

Kadang berdampak kecil & meliputi kawasan ngak terlampau luas, lain kala itu berdampak signifikan dan berskala luas.

Tahun 2018 ini, embun es telah muncul dua kali. Pertama terjadi daripada dasarian kedua Juni, adapun yang kedua muncul dari-pada Jumat dinihari, 6 Juli 2018.

Embun es Juni ngga berdampak besar, lantaran tipis & hanya terjadi di spot-spot tertentu. Bakal tetapi, embun es kedua dari-pada 6 Juli 2018, berakibat fatal.

Puluhan hektare tanaman kentang petani Dieng rusak.

Saksikan video dampak embun es di Dieng ini:



Begini Daya Rusak Embun Es ke Tanaman Kentang Petani Dieng

1 da-ri 3 halaman35 Ha Tanaman Kentang di Dieng Kulon Rusak

Di Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, embun es atau Bun upas merusak 35 hektare tanaman kentang petani. (Foto: Dok. Pemdes Dieng Kulon/Muhamad Ridlo/detectifmaya.com)

“Ya kurang lebih sekitar 30 sampai 35 hektare lah.

Kita masih mendata ini,” kata Kepala Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Slamet Budiono, Minggu, 8 Juli 2018.

Dia menjelaskan, seluruh tanaman kentang terdampak.

Sekilas kutipan kata-kata bijak/motivasi

Kejahatan terencana adalah memberikan harapan palsu tanpa ada rasa cinta.

Baik yang berusia muda maupun tua. Namun, tanaman kentang berusia antara 30-60 hari, atau usia lebih muda da-ri itu, disebut paling rawan.

Pasalnya, tanaman belum berbuah dan berdaya tahan lemah. Adapun tanaman yang lebih tua kisaran 80-90 hari, tetp terdampak tetapi masih bisa dipanen, sehingga petani ngak rugi total.

“Kalau yang tua ngga masalah. Paling dipanen lebih cepat, ya lebih dini,” dia menjelaskan ke pada detectifmaya.com.

Masyarakat Dieng sebenarnya usai paham dengan risiko menanam kentang di musim kemarau. Namun, apa boleh buat, bertani adalah satu-satunya penghasilan sebagian masyarakat Dieng.

Mereka pun hanya bisa pasrah jika embun es muncul. Petani hanya berharap embun es bukan terlampau tebal, sehingga tanaman kentang mereka selamat.

“Enggak bisa, mas. Memang tidak bisa diantisipasi. Wong itu, sudah menjadi kebiasaan ya. Seperti bulan Juli, Agustus, itu memang pas musim-musimnya itu, mas.

Petani sendiri sebenarnya seusai tahu, bulan-bulan itu keluar Bun upas.

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Mencintai seseorang berarti menjadikannya bagian dari dirimu. Itu sebabnya akan terasa sakit saat kehilangannya.

Cuma ya, masih menanam biasa,” dia mengungkapkan.

2 dari 3 halamanPrediksi BMKG Mengenai Munculnya Embun Es Juli-Agustus 2018

Embun es dari pada Jumat 6 Juli 2018 menyelimuti Desa Dieng Kulon, Batur, Banjarnegara & Bukit Sikunir, Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah. (Foto: Dok.

Pemdes Dieng Kulon/Muhamad Ridlo/detectifmaya.com)

Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banjarnegara, Setyo Aji Prayoedhi menerangkan fenomena embun es nyaris muncul tiap tahun. Namun, BMKG sendiri bukan bisa memperkirakan waktu tepat kapan embun es bakal muncul.

Hanya saja, sejumlah parameter bisa menjadi tanda munculnya embun es. Antara lain, suhu siang rata-rata yang turun kisaran 10-12 derajat Celcius.

Bisa dipastikan, dari-pada dini hari suhu bakal turun lagi di kisaran lima derajat Celsius. Saat itu lah, embun es berpotensi muncul embun es.

“Embun es akan di dekat permukaan tanah. Embun yang menempel di rumput atau tanaman kentang itu membeku,” Setyo Aji menerangkan.

Ia juga tak bisa memastikan apakah sesudah muncul embun es dari-pada Jumat lalu, bakal muncul kembali embun es daripada kemarau yang diprediksi berlangsung hingga Oktober ini. Sebabnya, Juli dan Agustus ialah puncak kemarau.

Namun, ia menyebut dari-pada Agustus peluang munculnya embun es masih bisa terjadi, dengan prasyarat kembali terjadi suhu yang berada di titik beku. “Kalau suhunya turun lagi yang mungkin,” dia menambahkan.

Karena itu, ia pun mengimbau agar petani mewaspadai kemungkinan embun es dengan ngga menanam kentang saat musim kemarau. Bila pun tetap menanam, petani diminta utk memperhatikan bocoran berita cuaca dan iklim agar saat embun es berpotensi muncul, tanaman kentang usai berusia tua dan resisten.

“Informasinya kan bisa lewat PPL ya. Jadi nantinya dampak utk petani ngak besar,” imbuhnya.

Sebelumnya, Jumat dini ha-ri lalu, embun es menyelimuti kawasan cukup luas. Embun es dilaporkan muncul di kompleks Candi Arjuna, Desa Dieng, Kulon Batur, Banjarnegara, hingga Bukit Sikunir, Desa Sembungan, Kecamatan Kejajajar, Kabupaten Wonosobo, yang juga masih satu kawasan di Dataran Tinggi Dieng.