Pelemahan Rupiah Tak Ganggu Pendanaan Proyek BUMN – berita 2018


Ilustrasi pembangunan jalan. (detectifmaya.com/Gempur M Surya)

detectifmaya.com, Jakarta Pelemahan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dikhawatirkan berdampak kerugian dari pada BUMN, bahkan berpotensi gagal bayar pendanaan proyek infrastruktur hingga mengalami bangkrut.

lrmPengamat Economi Christian Wibisono mengatakan, banyaknya proyek bisnis yang kini digarap BUMN pula masih dalam kategori aman secara pendanaan. Risiko kerugian atau gagal bayar pinjaman juga dinilai mustahil terjadi, sepeti dalam pengerjaan infrastruktur dari BUMN.

Dia mengungkapkan, proyek infrastruktur yang tengah dibangun saat ini bertujuan utk kepentingan publik. Sehingga BUMN telah memiliki jaminan hitungan keuntungan ketika proyek tsb beroperasi.

“Tercapainya titik keseimbangan nilai tukar rupiah dapat dilihat melalui peningkatan ekspor & mengurangi jumlah impor sehingga dapat menarik jumlah investor melalui proyek bisnis infrastruktur,” ujar dia di Jakarta, Thursday/kamis (13/9/2018).

Christian menjelaskan, BUMN telah mempunyai dasar internal rate of return (IRR) untuk menjamin keuangan yang tidak berisiko dalam proyek bisnisnya. Bahkan, semua pelaku bisnis pula mengacu dari-pada IRR ketika mengerjakan suatu proyek.

Menurut dia, melalui perhitungan IRR yang tepat maka BUMN menentukan stabilisasi rupiah sebab memiliki indikator tingkat efisiensi dari investasi proyek bisnisnya.

“Siapa pun itu bila dia membangun ya memang di wajibkan untung, entah itu BUMN atau swasta. Ukuran kinerja dari BUMN ialah IRR. Di Singapura semua pembangunan infrastruktur dikelola oleh BUMN namun efisien dan berkontribusi dari-pada efisiensi nasional,” ungkap dia.

Meski demikian, Christianto mengimbau agar BUMN semakin meningkatkan lagi secara berkelanjutan pengelolaan koorporasi yang profesional dan efisien.

Sehingga company plat merah ngak lagi terjerat dalam inefisiensi birokrasi.

lrm”Semua pembangunan harus diarahkan untuk mencapai tingkat produktivitas & efisiensi yang berdaya saing global,” tandas dia.

1 da-ri 2 halamanPerkuat Rupiah, BUMN Genjot Ekspor

Badak merupakan jenis panser terbaru buatan anak negara yang diproduksi Pindad. (Foto: Humas Pindad)

Kementerian Badan Usaha Milik Bang-sa (BUMN) berkomitmen untuk terus mendorong ekspor produk BUMN yang bergerak di bidang industri strategis.

Hal tsb dilakukan sebagai upaya memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Cinta bukanlah tentang berapa lama kamu mengenal seseorang, tapi tentang seseorang yang membuatmu tersenyum sejak kamu mengenalnya.

Adapun BUMN industri strategis yang pada tahun ini berkomitmen mengekspor produknya yakni PT Pindad (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, COMPANY Industri Kereta Api/INKA (Persero), COMPANY Barata Indonesia (Persero) & PT Dirgantara Indonesia (Persero).

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Dibalik setiap kesedihan, terdapat kebahagiaan. Serahkan segala urusan kepada Tuhan. Biarkan waktu dan kehidupan berjalan.

“Komitmen ekspor tersebut akan tetap kami jaga demi mendukung penguatan Rupiah. Di sisi lain, ini menjadi kebanggaan bagaimana produk BUMN diakui dari dunia,” kata Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno kepada wartawan, Jumat (7/9/2018).

Pada tahun ini, Pindad memproyeksikan dapat mengekspor produk senjata, munisi dan kendaraan tempurnya ke Thailand, Brunei, Myanmar, Korea Selatan, Perancis serta utk mendukung misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Nilai yang ditargetkan dalam ekspor ini mencapai Rp 78 miliar.

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Cinta yang sesungguhnya akan mengatidakan aku butuh kamu karna aku siap ununtuk mencintaimu dan menjalani suka duka bersamamu

Adapun PERUSAHAAN INKA yang telah memiliki kontrak ekspor kereta dengan Filipina dan Bangladesh dengan nilai masing-masing mencapai Rp 1,36 triliun dan Rp 126 miliar.

Lalu, COMPANY Krakatau Steel menargetkan ekspor baja hot rolled coil ke Malaysia dan Australia bakal mencapai Rp 907 Miliar dari-pada 2018. Serta Barata Indonesia yang akan mengekspor komponen perkeretaapian ke Amerika, Afrika & Australia dengan target nilai mencapai Rp 210 miliar.

“Ada pula PT Dirgantara Indonesia yang berkomitmen ekspor pesawat terbang jenis NC212i ke Filipina dengan nilai PHP 813 juta dan CN235 ke Vietnam dengan nilai USD 18 juta,” pungkas Harry.