Kecerdasan Buatan Bisa Deteksi Penyakit Genetik Da-ri Wajah Manusia – berita 2019


Cegah Penyakit Genetik dengan Diet yang Tepat (Vchal/Shutterstock)

detectifmaya.com, Ibukota Indonesia Teknologi kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) kini berperan penting di industri kesehatan.

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Cinta adalah ketika kamu yakin bahwa dirimu telah melupakannya, kamu masih menemukan dirimu peduli padanya.

Terbaru, kecerdasan buatan tengah diuji coba oleh perusahaan kesehatan FDNA.

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk menggambarkan orang lain sebagaimana mereka melihat diri mereka sendiri

Kecerdasan buatan ini, dapat mendeteksi gejala penyakit genetik cuma hanya dengan memeriksa wajah manusia.

Teknologi kecerdasan buatan bernama DeepGestalt tersebut, diharapkan bisa membantu dokter untuk mengidentifikasi sejumlah penyakit yang sulit dideteksi dengan alat kesehatan.

Demikian dikutip CNN da-ri studi majalah Nature Medicine, Tuesday/selasa (12/3/2019).

Studi juga melaporkan bila 8 persen populasi manusia memiliki gejala genetik yang harus diperiksa dari wajah.

Dalam hal ini, kecerdasan buatan DeepGestalt mampu mendeteksi sindrom Angelman, yakni gejala yang mempengaruhi sistem saraf manusia hanya dengan memeriksa bentuk wajah manusia, beranjak dari letak gigi, letak mata, hingga berposisi lidah.

“DeepGestalt mampu mendemonstrasikan bagaimana ia bekerja dengan algoritma deep learning untuk mendeteksi penyakit genetik,” kata Yaron Gruovich, Chief Technology Officer FDNA.

2 da-ri 3 halamanSudah Diuji Coba

Ilustrasi Kecerdasan Buatan.

Kredit: Geralts via Pixabay

Gurovich & timnya pula sudah melatih DeepGestalt untuk memeriksa 17.000 gambar wajah da-ri pasien yang didiagnosis memiliki penyakit genetik.

Dalam uji coba tersebut, DeepGestalt mampu bekerja lebih akurat & cepat ketimbang ahli klinis dalam memeriksa wajah pasien.

Dalam setiap uji coba, DeepGestalt mengungkap daftar penyakit dalam tingkat akurasi 91 persen.

Jorge Cardoso, dosen dari sekolah biomedis Kings College London, mengiyakan kalau kemampuan DeepGestalt sangat menaik.

Ia pun berharap, ke depannya DeepGestalt bisa digunakan rumah sakit umum untuk membantu mendeteksi lebih banyak jenis penyakit genetik.

“Ini ialah salah satu pencapaian fantastis kecerdasan buatan yang dapat mengubah harapan hidup manusia. Ketika banyak orang menatap kecerdasan buatan da-ri sisi negatif, kami justru optimistis DeepGestalt dapat membawa harapan untuk kemanusiaan,” tandasnya.

3 da-ri 3 halamanKecerdasan Buatan Kalahkan Dokter Sesaat Diagnosis Tumor Otak

Ilustrasi kerjasama manusia dengan mesin kecerdasan buatan (AI). (Sumber Pixabay)

Sistem kecerdasan buatan kembali menunjukkan tajinya di bidang kesehatan.

Kali ini, kecerdasan buatan asal Tiongkok yang dilaporkan berhasil mengungguli kemampuan diagnosis dokter.

Dilaporkan Xinhua, sebuah sistem kecerdasan buatan berhasil mengalahkan tim yang terdiri da-ri 15 doktor kenamaan Tiongkok dalam hal mendiagnosis tumor otak & memprediksi hematoma.

Dari uji coba yang dilakukan, kecerdasan buatan ini berhasil mengunguli kemampuan dokter saat melakukan diagnosis dua penyakit tersebut. Dikutip da-ri The Next Web, Rabu (4/7/2018), kecerdasan buatan ini diberikan nama BioMind.

Sistem ini dikembangkan oleh Artificial Intelligence Research Centre for Neurological Disorders dari Rumah Sakit Tiantan Beijing.

Sekilas kutipan kata-kata bijak/motivasi

Wanita itu unik, mereka ingin kita itu tau bagaimana perasaannya tapi mereka tidak ingin mengatakannya.

Sesaat uji coba, kemampuan BioMind rupanya berada di atas rata-rata kemampuan para dokter.

Saat menelaah sejumlah kasus tumor otak, BioMind berhasil memprediksi benar sekitar 87 persen.

Sementara para dokter hanya mampu menjawab benar 66 persen dari kasus yang diberikan.

Kecerdasan buatan ini juga mampu menganalisa kasus dengan lebih cepat. Dalam 15 menit, BioMind berhasil melakukan diagnosis 225 kasus, walaupun para dokter hanya 30 kasus.

Ketika membahas soal hematoma di otak, BioMind pula berhasil menjawab dengan benar 83 persen kasus yang diajukan.

Adapun para dokter hanya dapat melakukan diagonsa yang benar untuk 63 persen kasus.

(Jek/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:



Konferensi Kecerdasan Buatan menampilkan sejumlah robot pintar yang bisa menemani & memudahkan manusia dalam keseharian.