KEIN: KEK Pariwisata Perlu Penyesuaian Khusus – berita 2019


Danau Toba Sumatera Utara (dok.Instagramjokowi/https://www.instagram.com/p/Btzft4ZDXEH/Devita Nur Azizah

detectifmaya.com, Jakarta Persoalan pembentukan Kawasan Economi Khusus atau KEK untuk sektor pariwisata bukan seperti pembetukan KEK Industri dari pada umumnya. Masalah utamanya ada daripada lahan.

Ketua Pokja Industri Pariwisata Komite Economi dan Industri Nasional (KEIN) Dony Oskaria mengatakan sejatinya KEK pariwisata tidak memerlukan hamparan berupa lahan atau tanah, sebagaimana regulasi KEK dari-pada umumnya.

Sekilas kutipan kata-kata Cinta /Galau

Indahnya persahabatan adalah saat kita memberi tak mengharapkan balasan. Ada tawa saat dalam kesedihan.

Karena pariwisata terkait dengan atraksi-aktraksi di destinasi yang posisi geografisnya belum tentu bisa diikat dari luas lahan terntentu.

“Penekanan KEK Pariwisata haruslah dari-pada persoalan insentif atau disentif, kemudahan regulasi, kemudahan pajak, & lain-lain dalam suatu kawasan, yang belum tentu berupa hamparan atau daratan,” kata dia dalam keterangan ter-tulis di Jakarta, Saturday/minggu (8/9/2019).

Menurut Dony, yang dimaksudkan KEK pariwisata adalah attraction atau destinasi, yang tak semuanya bisa dikunci lokasinya daripada suatu dataran tertentu atau zona tertentu dalam radius tertentu pula. KEK pariwisata harus ditentukan berdasarkan destinasi.

Dari situ kemudian baru bisa dikembangkan ekosistem penunjang pariwisata yang dapat diberikan insentif fiskal berupa keringanan pajak, kemudahan perijinan, & lainya

Dony mengambil contoh desinasi Danau Toba. Seharusnya yang diberi trigger sebagai kawasan khusus ialah radius di sekeliling Danau Toba, yang dikembangkan utk memperkuat ekosistem pariwisata seperti penciptaan attraction, hotel, dan lain-lain.

“Bukan sepeti yang dilakukan hari ini dengan membuat kawasan baru yang tidak mungkin bakal dapat berjalan maksimal, karena mematok lahan tertentu yang lokasinya kurang terlalu terkait dengan main attraction Toba, yakni Danau,” kata dia.

2 dari 3 halamanCandi Borobudur

Sejumlah biksu sesaat berziarah ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (18/52019). Ziarah yang diikuti oleh para biksu dan umat Buddha tersebut untuk merefleksikan ajaran Sang Buddha serta menyambut Waisak 2563 BE/2019. (OKA HAMIED/AFP)

Demikian juga dengan Borobudur, lanjut Dony, yang seharusnya menjadi kawasan khusus merupakan radius di sekitar Borobudur.

“Kesalahan ini menyebabkan KEK saat ini tidak berkembang karena konsep pengembangan sedari mulanya sudah kurang tepat” ucap Dony

Menurut Dony, semuanya di wajibkan diawali dengan pembuatan Masterplan pengambangan pariwisata yang jelas, yang bertujuan utk menyempurnakan suatu destinasi.

Sekilas kutipan kata-kata bijak/motivasi

Karena harapan mampu melihat bahwa ada seberkas cahaya dibalik pekatnya kegelapan.

Master plan tersebut nantikan bakal menentukan batasan pengembangan yang sesuai dengan peruntukannya, ada pembagian zonasi yang jelas, mana yang akan dikembangkan menjadi mass tourism mana yang memang diproteksi sehingga menjadi high end tourism.

“Jika tak hati-hati, bakal banyak destinasi kita nanti yang akan hancur. Dari karena itu, sebelum mengembangkan suatu kawasan, masterplannya mesti jelas terlebih dahulu, alias arahnya arus ditentukan secara jelas & sesuai dengan peruntukan dasarnya,” tutup Dony.

3 da-ri 3 halamanSaksikan Video Pilihan di Bawah Ini:


Jokowi mengatakan, Borobudur ialah sebuah destinasi yang sudah diakui sebagai salah satu keajaiban dunia.


Leave a Reply